Minggu, 22 Oktober 2017 09:37 WIB

Ketika Jokowi Dibisiki Hoaks

Oleh : Oddy Karamoy | Minggu, 08 Oktober 2017


Ilustrasi Presiden Jokowi dibisiki

Oleh: Budi Anak Marhaen

Sebarr.com, Jakarta - Masya Allah! Pakde Jokowi tidak percaya daya beli masyarakat menurun. Dia malah menyebut bahwa isu ini sengaja diciptakan oleh lawan politiknya di 2019 nanti

Pakde Jokowi pasti dibisiki oleh menteri yang tidak bertanggung jawab. Masa Pakde Jokowi bilang ada bukti-bukti, tapi koq faktanya kurang meyakinkan, ya?

Dia bilang, soal daya beli tidak bisa dilepaskan dari fenomena peralihan took luring (offline) ke daring (online).Pakde jangan mau dibisiki yang tidak benar. Menteri yang membisiki itu asbun! Faktanya nilai transaksi e-commerce Indonesia pada tahun 2016 hanya USD 4,9 miliar (data idEA, Indonesia E-Commerce Association), bandingkan dengan ukuran total transaksi retail Indonesia yang mencapai USD 350 miliar.

Artinya, Pakde, ukuran ekonomi toko daring baru 1,5% dari toko luring. Tahun 2017 prosentase ini diproyeksikan naik ke3%. Meski pertumbuhan toko daring cukup pesat, sekitar 30%, tetap ukurannya tidak signifikan bila dibandingkan toko luring.

Lanjut ya,, kemudian tentang jasa kurir. Pakde Jokowi dibisiki, katanya terjadi kenaikan jasa kurir 135% pada September ini.

Sayangnya ya.. meski Pakde bilangKita ngecek DHL, JNE, Kantor Pos, saya cek. Saya kan juga orang lapangan. Ehh, Bos JNE malah ngebantah. Katanya kenaikan volum pengiriman berada di kisaran 25-30% saja, bukan 135% . Masa Presiden Pakde Jokowi koq diapusi. Datanya jauh lagi, lebih dari 4 kali lipat selisihnya dari kenyataan. Saya sungguh menyesal ada menteri yang sudah bisiki hoax ke Presiden.

Seperti disebutkan di rilis resmi Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Presiden, Bey Machmudin, Pakde Jokowi katanya bilang: Di antaranya kenaikan sektor perdagangan sebesar 18,7%, sektor industri naik 16,36% dibanding tahun lalu, sector pertanian sebedsar 23, hingga pertambangan eskpor yang sudah pulih dan mulai merangkak naik sebesar 30,1%.

Jujur, saya bingung ini angka-angka apa. Apakah pertumbuhan sektor dibanding tahun sebelumnya? Atau apakah ini tentang komposisi sektor tersebut dalam keseluruhan perekonomian? Karena untuk pertumbuhan, jelas tidak masuk akal. Misalnya, sektor industri. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), kuartal I 2017 industri manufaktur kita hanya tumbuh 4,21% dari tahun sebelumnya. Sedangkan kontribusi industri manufaktur mencapai 30% dari total perekonomian. Lalu, 16,36% itu angka apa??

Maaf Pakde, bukan maksud saya mengkritik Bapak. Tapi saya lebih menyalahkan pembisik Bapak yang sekali lagi telah membisikkan hoax kepada Bapak.

Pakde Jokowi seharusnya diberikan data yang jujur. Seperti misalnya tentang konsumsi rumah tangga. Rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia selama 10 tahun (2005-2015) adalah 5,1%. Sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga semester pertama 2017 hanya 4,9%. Artinya pertumbuhan konsumsi rumah tangga saat ini masih di bawah rata-rata.

Data yang lain yang seharusnya diketahui Pakde Jokowi adalah data defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Pada Februari 2017, deficit transaksi berjalan masih di level USD 1,8 miliar. Pada Mei 2017, deficit transaksi berjalan meningkat ke USD 2,4 miliar. Pada Agustus 2017 defisit transaksi berjalan sudah meningkat tajam ke level USD 5 miliar.

Dengan defisit transaksi berjalan yang terus melebar, sementara pertumbuhan impor lebih lambat (pertumbuhan impor per Agustus 2017 mencapai 8,89% yoy) daripada pertumbuhan ekspor (pertumbuhan ekspor per Agustus 2017 19,2% yoy). Dapat dikatakan memang terjadi pelemahan ekonomi karena net payment service besar.

Kemudian ada saja yang berbangga tentang naiknya dana pihak ketiga di perbankan. Padahal kenaikan dana pihak ketiga justru mengindikasikan orang belum percaya ada kesempatan investasi. Atau orang masih simpan di bank karena dia takut kena pajak lagi. Artinya perekonomian membaik tidak seiring dengan banyak simpanan pihak ketiga di perbankan.

Pakde Jokowi juga sempat bilang tentang PPN yang naik hingga 12%. Anggaplah ini benar. Tapi jangan terlalu yakin dulu, bahwa kenaikan PPN ini berarti terjadi peningkatan ekonomi. Bisa jadi PPN naik karena memang pajak semakin digalakkan dan juga semakin sedikitnya permainan dalam restitusi pajak.

Terakhir soal tuduhan Pakde Jokowi, tentang adanya politisasi isu daya beli menjelang 2019. Pernyataan ini dibantah langsung oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Apindo adalah sebuah organisasi profesional yang non politis. Ketua Tim Ahli Apindo Sutrisno Iwantono menyatakan memang ada kecenderungan ke arah penurunan daya beli masyarakat (baca di sini )

Rakyat merasakan daya beli turun. Pengusaha mengetahui daya beli rakyat turun. Zaman Suharto saja disinformasi tdk separah ini. Suharto tidak bisa dibohongi menteri-menterinya karena dia punya sistem untuk verifikasi kondisi sosial masyarakatnya. Pak Harto tidak mau terkecoh laporan bahwa ekonomi baik hanya dari menterinya. Ia juga membaca opini-opini para ekonom oposannya tentang perekonomian aktual.

Pakde Jokowi yo jangan terlalu gegabah. Jangan setiap ada pernyataan ekonomi selalu dituduh politik. Bisikan dari menteri yang cantik belum tentu benar. Kinerja seseorang seharusnya dinilai dari rekam jejaknya, bukan dari penampilan.

Bila setiap perbedaan pendapat dinilai politik takutnya nanti kebablasan. Setiap kritik nanti lama-lama nanti dituduh anti pembangunan dan komunis.


#Presiden Jokowi #Sri Mulyani #Dibisiki hoaks

Komentar