Minggu, 22 Oktober 2017 09:50 WIB

Kiprah Santri Milenial di Era Digitalisasi

Oleh : Adit Fahlevi | Senin, 09 Oktober 2017


Ilustrasi

Oleh: Vinanda Febriani

Sebarr.com - Semenjak tahun 2015 silam, Presiden Joko Widodo telah memberikan keputusan penetapan Hari Santri Nasional jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober. Penetapan ini dilaksanakan bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta (22/05/2015) dengan disaksikan oleh ribuan Santri dari berbagai daerah, para Alim Ulama dan para pengasuh Pondok Pesantren seantero Nusantara.

Hari Santri Nasional (HSN) ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

"Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan," kata Joko Widodo.

Bermacam cara dilakukan oleh para Santri zaman perjuangan demi ikutserta dalam gerakan bela negara. Mereka turut bergabung dalam barisan laskar fi sabilillah dan laskar hizbullah dalam mempertahankan kemerdekaan.

Barisan-barisan itu tergabung bersama barisan-barisan kelaskaran dalam Organisaisi Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela.

Pada tanggal 22 Oktober 1945 telah terjadi peristiwa bersejarah yang merupakan bagian dari upaya melawan pihak kolonial demi keutuhan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pada tanggal 21 Oktober 1945, PB Ansor Nahdlatul Oelama (PB ANO) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Semangat Revolusi Jihad itulah yang terus menggelora membakar semangat para barisan pejuang kemerdekaan. Semangat itu terus digelorakan Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan secara langsung oelh RRI dan diputar berulang-ulang untuk menjaga semangat jihad barisan para pejuang.

Berkat jasa Santri dalam upaya Revolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hardatussyaikh Kh. Hasyim Asy’ari ini, kini Indonesia telah terbebas dari serangan pihak kolonial.

Santri Tempoe Doloe dan Santri Zaman Kekinian

Istilah santri begitu identik dengan suasana Pesantren. Sebab, di pesantren itulah para santri hidup untuk Menimba Ilmu baik ilmu pengetahuan formal maupun ilmu agama.

Pesantren pertamakali di didirikan di Indonesia oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim (The Spiritual Father of Walisongo/ Sunan Gresik/ Sunan gujarat/ Syaikh Maghriby).

Sedangkan Istilah "Santri", kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3) Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Ada juga yang mendefinisikan santri sebagai sebuah singkatan dari gramatika Bahasa Arab, disampaikan oleh KH Daud Hendi Ismail ketika mengisi ceramah agama dalam acara Wisuda Angkatan XIV (أَنْصَارُ الْأُمَّةِ) Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami. Santri jika ditulis dalam bahasa arab terdiri dari lima huruf (سنتري), yang mana di setiap hurufnya memiliki kepanjangan serta pengertian yang luas.

Sin (س) adalah kepanjangan dari سَافِقُ الخَيْرِ yang berartikan Pelopor kebaikan.
Nun (ن) adalah kepanjangan dari نَاسِبُ العُلَمَاءِ yang berartikan Penerus Ulama.
Ta (ت) adalah kepanjangan dari تَارِكُ الْمَعَاصِى yang berartikan Orang yang meninggalkan kemaksiatan.

Ra(ر) adalah kepanjangan dari رِضَى اللهِ yang berarti Ridho Allah.
Ya (ي) adalah kepanjangan dari اَلْيَقِيْنُ yang berarti Keyakinan.

Kiprah Santri Zaman Dahulu (Santri Tradisional)

Santri tempoe doloe (santri zaman dahulu/ santri tradisional) jelas sangat berbeda dengan santri zaman sekarang (santri modern). Santri zaman dahulu lebih meningkatkan daya kesalehan ritual.

Sehingga, santri zaman dahulu terkenal dengan kesalehan ritualnya yang amat kental. Santri zaman dahulu berkehidupan di pesantren dengan penuh kesederhanaan. Fasilitas dan suasana hidup di pesantren yang amat sederhana membuat para santri zaman dahulu lebih unggul dalam hal tirakat.

Santri zaman dahulu belum mengenal teknologi secanggih zaman sekarang. Bahkan, untuk penerangan ketika belajar saja seringkali mereka menggunakan lilin atau lampu lentera (lampu kecil bertutup kaca yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, disulut api dan kemudian dapat meghasilkan cahaya). Zaman dahulu, santri lebih lekat kepada para Ulama sepuh, Kyai atau pengasuh Pondok Pesantren tersebut. Belum ada kendaraan sama sekali, hanya ada sepeda onthel tua untuk digunakan dikala menempuh perjalanan jauh.

Jika hanya perjalanan dekat saja, maka para santri zaman dahulu lebih mengutamakan berjalan kaki. Inilah penyebab utama Santri zaman dahulu lebih sehat dibandingkan santri zaman modern.

Kesederhanaan santri zaman dahulu inilah yang kemudian menjadikan mereka lebih mudah dan lebih nyaman dalam menimba Ilmu agama. Sehingga, sepulang dari pesantren banyak Santri yang berhasil menjadi "Sempurna" sebagai anutan di tengah kehidupan kalangan masyarakat.

Pada dasarnya santri zaman dahulu (santri tradisional) dan santri zaman modern sama-sama belajar kitab gundulan (kitab kuning) dengan cara pengajian yang sama. Yakni dengan sorogan maupun bandongan.

Namun kini, telah banyak beredar kitab cetakan yang sudah lengkap dengan makna pegon, sehingga para santri lebih mudah dan lebih praktis tanpa harus memberi harokat atau memakna pegoni kitab tersebut. Semua adalah berkat kecanggihan teknologi di zaman modern.

Kiprah Santri Zaman Kini (Santri Modern)

Di zaman yang semakin modern, teknologi dan arus infsormasi yang semakin canggih membuat para santri lebih cenderung mengikuti arus zaman (trend). Kenyataan yang sulit diterima di dunia pesantren.

Sebab dunia pesantren yang semenjak dahulu terkenal dengan kesederhanaannya kini telah beralih mengikuti arus perkembangan zaman.

Bahkan beberapa pesantren memperbolehkan santrinya untuk memegang alat komunikasi modern yang canggih seperti smartphone, gadget dan laptop. Namun tentunya dengan batas waktu dan pantauan yang amat ketat.

Di zaman yang semakin "aneh" ini, para santri di suguhkan dengan kecanggihan teknologi yang memaksa para santri untuk semakin meningkatkan kwalitas kreatifitas dalam dirinya supaya dapat bersaing di era digitalisasi saat ini.

Bersyukur karena di zaman ini, kehidupan satri lebih berasa mudah sebab perkembangan teknologi yang ada. Tidak seperti zaman dahulu, santri zaman modern sudah tidak "kolot informasi", sehingga santri zaman modern lebih kritis dibandingkan dengan santri zaman dahulu. Akan tetapi kwalitas ilmu agamanya lebih tinggi santri zaman dahulu.

Karena banyak santri zaman dahulu yang tergolong sebagai santri Zuhud. Sedangkan saat ini, amat sulit mencari santri Zuhud di tengah derasnya arus modernisasi, teknologi komunikasi dan informasi yang seakan memaksa kita untuk terus mengikuti alur perkembangan tanpa tahu arah dan tujuannya.

Santri Sebagai Penyaring Arus Informatika Digital

Santri zaman sekarang, selain harus mampu mengaji, mereka juga dituntut untuk mampu berkreasi dengan teknologi modern.

Melihat perkembangan dunia informatika yang amat memprihatinkan, maka para Santri dituntut untuk mampu menyaring informasi yang ada kemudian ditelaah dan dipublikasikan dengan karyanya. Kini, di kalangan Santri Nahdlatul Ulama ada sebuah komunitas Santri digital bernama "Santri Online" yang mana tugas utamanya adalah membangun kreatifitas Santri di era modernisasi, digitalisasi.

Selain itu, ada juga sebuah komunitas Santri Digital bernama AIS Nusantara (Arus Informatika Santri Nusantara) yang mana komunitas ini sudah menyebarluas ke seluruh penjuru Nusantara.

Diharapkan dengan munculnya komunitas-komunitas Santri Digital yang ada, mampu mencetak kreatifitas Santri dalam bidang teknologi. Sehingga, santri mampu mempublikasikan karyanya yang tidak kalah menarik dari karya dari luar pesantren.

Kiprah Santri di Era Modernisasi

Kiprah Santri di era modernisasi amat dibutuhkan sebagai upaya memperjuangkan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah di bumi Indonesia pada era modernisasi dan digitalisasi.

Di bidang digitalisasi, santri dituntut untuk mengembangkan bakatnya sebagai upaya dakwah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah demi menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang aman, damai, tenteram, bersahaja, berwibawa dan penuh cinta kasih. Karena bumi Indonesia merupakan bumi Santri.

Bumi dimana Santri pernah beperan aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bertaruh jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia, demi kemanusiaan dan keadilan. Sebab, satu hal yang ada dalam benak mereka "Merdeka atau Mati Syahid !"


#Hari Santri Nasional

Komentar