Rabu, 22 November 2017 23:17 WIB

Profesor Melbourne University Beberkan Tiga Keanehan Pidato 'Pribumi' Anies

“Kedua, adalah kata pribumi. Sementara Anies sendiri bukanlah pribumi, karena dia peranakan Arab.”

Oleh : Wisnu | Jumat, 20 Oktober 2017


Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sebarr.com, Melbourne – Pidato "Pribumi" Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ternyata tak hanya menjadi polemik di dalam negeri. Bahkan, Kuliah umum Profesor Charles Coppel dari Melbourne University sampai membedah tiga keanehan pidato Gubernur baru Jakarta itu..

Dikutip dari Australia Plus, Profesor Coppel menyinggung tentang Pidato Anies dalam Kuliah Herb Feith yang membahas tema ” Warga Cina atau Tionghoa di Indonesia”, dua hari lalu.

Coppel dalam kuliah ini diperkenalkan sebagai “Bapak Jurusan Indonesia di Australia”. Profesor menyinggung soal pidato Anies, karena sebelumnya membahas Ahok sebagai bagian dari cerita mengenai warga Tionghoa Indonesia.

Dalam paparanya, Coppel menyoroti tiga keanehan dalam pidato Anies yang menyinggung tentang istilah pribumi itu. “Pertama dalam soal penjajahan, kolonial. Jadi sekarang ini Indonesia dijajah oleh siapa?” kata dia, dikutip dari pojoksatu, Jumat (20/10/2017).

Profesor pakar Indonesia itu juga mempertanyakan latar belakang Anies yang juga bukan berdarah asli pribumi. “Kedua, adalah kata pribumi. Sementara Anies sendiri bukanlah pribumi, karena dia peranakan Arab.”

“Dan ketiga pernyataan itu tidak memperhatikan jasa kelompok seperti Tionghoa Muslim di Indonesia.” tandas Guru Besar Jurusan Indonesia itu lagi.

Sebelumnya, Coppel memaparkan, Gubernur Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sebagai bagian dari penjelasannya mengenai kehidupan warga Tionghoa Indonesia.

Coppel mencoba menjawab pertanyaan apakah Tionghoa Indonesia sudah merupakan bagian normal dari Indonesia sekarang ini. Di akhir kuliahnya, Coppel memberikan jawaban bahwa sampai sekarang jawabannya adalah belum.

Menurut dia, munculnya Ahok yang awalnya sebagai Wakil Gubernur Jakarta, kemudian menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo, adalah perkembangan yang luar biasa.

Coppel juga menyoroti kemungkinan Ahok akan terpilih lagi dalam pemilihan Gubernur lalu, tetapi berakhir dengan terpilihnya Anies Baswedan sebagai gubernur.

Namun, Ahok harus menjalani hukuman penjara karena kasus penistaan agama yang menjungkirbalikkan perkiraan sebelumnya. “Apakah kekalahan Ahok disebabkan karena faktor etnis sebagai warga Tionghoa Indonesia?” tanya Coppel.

“Ahok kalah bukan karena etnisnya, namun ada hubungannya dengan masalah agama.” ujar Coppel menjawab pertanyaannya sendiri di hadapan peserta kuliah umum.

Menurut Coppel, berdasarkan risetnya dari beberapa survei yang dilakukan sebelum pilkada, walau warga puas dengan kepemimpinan Ahok, namun mereka tidak akan memilihnya lagi sebagai gubernur karena perbedaan agama.

Untuk diketahui, Kuliah Herb Feith diselenggarakan secara teratur oleh Monash University untuk mengedepankan tema-tema mengenai Indonesia. Yayasan Herb Feith didirikan di tahun 2003 dengan tujuan mempromosikan dan mendukung apa yang pernah dilakukan Professor Herb Feith semasa hidupnya.

 


#KPK #Anies Baswedan #Pribumi #Melbourne University # Profesor Charles Coppel

Komentar