Pengganti Khofifah Harus dari Kalangan Profesional

Khofifah Indarparawansa. Foto: Tempo

Sebarr.com, Jakarta – Mundurnya Khofifah sebagai Menteri Sosial memunculkan wacana reshuffle. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun diminta untuk menempatkan kalangan profesional sebagai pengganti.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Prof Maswadi Rauf menilai pergantian kemungkinan terjadi di posisi Mensos karena Khofifah telah mengundurkan diri untuk berkontestasi di Pilgub Jatim.

“Jadi memang yang harus diganti itu Mensos, karena sudah mengundurkan diri dan tak dapat jadi menteri. Sedangkan Airlangga masih diperdebatkan. Kalau saya berpendapat untuk Airlangga tidak perlu, kalau ketum partai jadi menteri itu kan masih memungkinkan,” kata Maswadi, sebagaimana dilansir detik, Kamis (11/1/2018).

Menurutnya, jangan sampai politisi mengorbankan jabatan di partai dengan jabatan di pemerintah. Sebab, posisi tersebut memiliki hubungan erat.

READ  Hanura Kubu 'Ambhara': Loyalis OSO Kutu Loncat

“Rangkap jabatan biasa terjadi, termasuk di negara lain. Pak JK (Jusuf Kalla) juga waktu jadi wakil presiden kan jabat Ketua Golkar juga,” tukasnya.

Sementara itu, untuk posisi Mensos, Maswadi mengatakan Jokowi akan terbentur oleh etika politik. Menurutnya, ada kemungkinan Jokowi akan mengisi posisi Khofifah dengan orang yang berasal dari partai yang sama, PKB.

Meski demikian, Maswadi berharap Mensos yang baru memiliki kemampuan dan pengetahuan soal penanggulangan sosial. Selain itu, Mensos yang baru harus punya pengalaman memimpin organisasi.

“Karena memang Khofifah itu PKB, saya pikir mesti etikanya dari PKB. Memang tak ada aturan tertulis, tapi itu etika politik. Jokowi kan juga harus menghargai partai politik yang mendukungnya,” ucapnya.

READ  Golkar Akan Undang Presiden Jokowi Dalam Munaslub, Ini Skenario Acaranya

Sebagai jalan tengah, Maswadi mengatakan Jokowi dapat memilih politisi yang berasal dari kalangan profesional. Dalam reshuffle ini, kata Maswadi, Jokowi perlu mempertimbangkan soal soliditas partai-partai pendukung pemerintah.

“Itu bisa diatasi dengan mencari profesional di dalam partai. Semestinya presiden mencari orang di parpol itu yang paling jago. Itu untuk mengurangi kritik dari publik dan itu juga untuk menghargai PKB sebagai parpol pendukung Jokowi,” tuturnya.

Sebelumnya, Khofifah sendiri telah mengirimkan surat pengunduran diri sebagai Menteri Sosial kepada Presiden Joko Widodo. Namun, hingga Rabu (10/1) siang, Jokowi mengaku belum membaca surat tersebut.

Jokowi pun berjanji segera membuat keputusan jika surat undur diri Khofifah tersebut telah dibaca dan dipelajarinya.

READ  Jokowi Terima Surat Pengunduran Diri Khofifah

“Suratnya memang sudah di meja saya, tapi belum saya baca,” kata Jokowi.

Sambil berkelakar, Jokowi meminta wartawan tidak terus ‘mendesak’ dirinya menjawab pertanyaan tersebut. “Kamu jangan maksa-maksa,” kata Jokowi lalu tersenyum.

“Kalau belum, suratnya saja isinya (saya) belum ngerti, bagaimana?” imbuh Jokowi.

Khofifah mengundurkan diri dari kabinet gara-gara ikut maju di Pilgub Jawa Timur 2018. Dia berpasangan dengan Emil Dardak sebagai bakal cagub-cawagub. Mereka mendaftar ke KPU Jawa Timur beberapa saat yang lalu, meski harus ada syarat administratif yang perlu dilengkapi.