Presiden Jokowi dan Pencapaian Empat Ujung Indonesia

Presiden Joko Widodo, Foto: Biro Pers Setpres

Sebarr.com, Jakarta – Akhirnya, Presiden Jokowi ke Rote juga. Catatan sejarah itu terjadi pada Senin dan Selasa, 8-9 Januari 2017. Bukan hanya kali pertama menjejakkan kaki di ujung selatan Indonesia itu, tapi Joko Widodo pun menjadi presiden Indonesia yang pertama menginjakkan kaki di pulau yang berjarak hanya 1.966 kilometer dari Australia Barat ini.

Menjadi bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur, Rote kondang dengan kekhasan budidaya lontar, wisata alam pantai, musik sasando, dan topi adat Ti’i Langga.

Agustus tahun lalu, dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Al Amien di Jember, Jokowi mengutarakan keinginannya berkunjung ke Rote. “Yang di ujung-ujung sudah saya kunjungi semua, hanya Pulau Rote yang di ujung selatan Indonesia yang belum saya kunjungi,” kata Presiden Jokowi.

Kunjungan ke Pulau Rote dilakukan untuk serangkaian acara, terutama menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) yang dilanjutkan dengan pembagian sertifikat tanah, Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, dan peresmian embung. Di sela-sela peresmian embung, Presiden Jokowi tercatat mengeluarkan komentar keras, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi tindak kekerasan seksual pada anak.

“Dengan menginjakkan kaki di Pulau Rote ini, artinya saya sudah lengkap melihat Indonesia,” kata Jokowi  dalam pidatonya di  acara  penutupan Rakornas Bara JP 2018.

READ  Untuk Yerusalem, Ini yang Akan Dilakukan Indonesia dan Presiden Jokowi?

Jokowi juga menegaskan, dirinya adalah presiden pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Rote. “Tadi dibilangin Pak Bupati, katanya saya ini adalah presiden pertama yang datang ke Pulau Rote. Yang menyampaikan bukan saya loh ya, tapi Pak Bupati. Sehingga kalau ada yang bilang, Pak keliru, ah bilangnya ke bupati saja,” ungkap Jokowi.

Kemudian, viral lah meme atau infografis yang menjelaskan Presiden sudah ke empat ujung Indonesia, sekaligus menegaskan kepeduliannya pada daerah terluar, terdepan, dan tertinggal dari negeri ini.

10 Maret 2015, Presiden Jokowi menginjakkan kaki di ujung barat Kilometer Nol Indonesia, yakni di Sabang, Pulau Weh, Aceh. Saat itu, Jokowi mencanangkan Gerakan Nasional ‘Ayo Kerja’, yang selanjutnya disebarkan ke 33 provinsi. Gerakan ini menjadi representasi dari semangat “Kerja, kerja, kerja” yang digelorakan oleh Presiden Jokowi dalam pemerintahannya.

“Hari ini saya berdiri di titik nol kilometer Indonesia,titik ujung barat Indonesia. Dari titik ini saya ingin mengajak kita semua untuk membayangkan kembali Indonesia. Indonesia bukan hanya masa lalu kita, melainkan hari ini, dan masa depan kita. Indonesia adalah harapan kita, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata. Tempat kita untuk menaruh cita-cita, sekaligus tempat untuk mewujudkannya,” seru Jokowi di Sabang.

READ  Sindikat Saracen, Manteman dan Revolusi Kesadaran Tony Q Rastafara

Di tahun yang sama, 30 Desember 2015, Presiden Jokowi mengunjungi Merauke, titik paling timur Indonesia dan menulis impiannya untuk Indonesia 70 tahun mendatang dan meletakkannya di dalam sebuah kapsul. Peresmian monumen Kapsul Waktu’ Impian Indonesia 2015-2085 ini digagas anak-anak muda, Abdee Slank dan kawan-kawan.

Di ujung utara, 19 Oktober 2016, menggunakan pesawat CN-295 TNI AU, Presiden Jokowi mengunjungi Pulau Miangas, Sulawesi Utara, untuk meresmikan sekaligus tiga bandar udara, yakni Bandara Miangas di Pulau Miangas, terminal Bandara Tanjung Api Tojo Una-una di Ampena, dan terminal Bandara Kasiguncu di Poso.

Miangas yang hanya berjarak 48 mil dari Filipina.menjadi pusat peresmian tiga bandara ini mengingat letaknya sebagai pulau perbatasan paling utara di Indonesia.

Tak salah, saat bulan pertama di 2018 ini jadi juga menginjak Pulau Rote, Presiden Jokowi begitu gembira. Ia merasa ke-Indonesiaannya begitu lengkap. Maka, dalam akun Facebooknya, Presiden Jokowi menulis,

“Saya menikmati kunjungan ke Pulau Rote, pulau di ujung selatan Indonesia. Pada Senin 8 Januari malam, saya menginap di sebuah hotel di kawasan Pantai Nemberala. Pantai ini terkenal dengan pasirnya yang putih, serta laut dengan ombaknya yang besar dan jadi tempat para wisatawan berselancar dan menyelam.

READ  Ini Pesan dari Menteri Basuki Untuk Ibu-Ibu di Acara HUT DWP ke-18

Tapi satu yang kurang: air bersih. Saya sampai tidak mandi sore. Baru pada pagi hari, sebelum menghadiri berbagai acara, saya mandi.

Kendati begitu, saya optimistis, kekurangan air bersih itu akan segera teratasi. Pemerintah telah membangun embung-embung untuk menampung air hujan di sini dan sumur bor. Ada 74 embung yang dibangun di Pulau Rote, salah satunya Embung Saina yang saya resmikan kemarin.

Jika ada air, maka pertanian, perkebunan, peternakan bisa meningkat.”

Selamat Pak Jokowi, yang menegaskan, pembangunan bukanlah Jawa Sentris atau kota-kota besar lain. Indonesia adalah Indonesia yang harus merata dan tidak teranaktirikan. Seperti pidatonya dalam Rakernas Bara JP itu.

“Bukan hanya membangun Jawa, membangun Sumatra, tapi membangun seluruh pelosok Tanah Air dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” kata Presiden Jokowi.

Secara pribadi, saya sudah ke Sabang dan Miangas. Tapi, Merauke dan Rote belum. Bagaimana dengan Anda?.

Oleh: Jojo Raharjo