Mantap! Satgas Anti-SARA Siap Berantas Ujaran Kebencian

Sebarr.com, Jakarta – Upaya Polri membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-SARA jelang Pilkada Serentak 2018 yang digelar di 171 daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, diapresiasi DPR.

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily mendukung rencana tersebut.

“Kita (apresiasi) dukung saja terhadap upaya Polri untuk antisipasi munculnya isu SARA saat pilkada,” katanya seperti dilansir Okezone, Minggu (15/1/2018).

Ia memprediksi saat perhelatan pilkada serentak, persoalan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) saat pilkada serentak diprediksi akan tumbuh subur. Penyelenggara pemilu maupun aparat penegak hukum diharapkan untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Memang persoalan isu SARA itu harus diantisapasi oleh sedemikan rupa oleh terutama diwaspadai oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU), kemudian didukung oleh polisian,” ucapnya.

READ  Buku IPS Terbitan Yudhistira Memuat Materi Yerusalem Ibu Kota Israel

Ace mengaku bahwa dirinya sudah menyampaikan terkait kemungkinan adanya permainan isu SARA tersebut dalam rapat yang dihadiri oleh Kemendagri, KPU, Bawaslu dan Polri.

“Saya juga sampaikan dalam rapat konsultasi Kemendagri, KPU, Polri , Bawaslu, tentang kemungkinan isu SARA akan dimainkan di pilkada. Memang salah satu media yang dipergunakan untuk menyebarkan isu SARA itu melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, kemudian disebar melalui WhastApp. Ini harus ada satuan khusus yang mendeteksi itu semua agar potensi-potensi yang menyebabkan tercorengnya pilkada, yang berkualitas dengan isu-isu yang menyimpang,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, Polri berencana membentuk satgas Anti-SARA menyusul perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018.

Karopenmas Div Humas Polri, Brigjen Muhammad Iqbal mengatakan, satgas anti-Sara bertujuan menciptakan Pemilu yang aman dan damai melalui UU ITE.

READ  'Ratu Tambang' Terjerat Pencucian Uang

Satgas anti SARA akan memantau media sosial yang memuat konten ujaran kebencian, parodi grafis sarat kebencian dan pornografi serta provokasi maupun hoaks.