MUI Sebut SARA Boleh Dibawa ke Pilkada, Ini Penjelasannya

Sekjen MUI Anwar Abbas

Sebarr.com, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI), tak mempersoalkan calon kepala daerah membawa SARA (suku ras agama dan antargolongan) dalam kampanye pemilihan kepala daerah 2018 nanti.

“MUI sudah mendiskusikan mengenai SARA, SARA itu kan suku agama ras dan antargolongan, kami melihat bahwasanya tidak salah kalau kita berbicara dalam Pilkada tentang SARA,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas di kantornya, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Menurut dia, SARA tidak boleh dibawa dalam ajang pertarungan pemilihan kepala daerah apabila pihak tersebut menggunakannya untuk mencela pihak lain.

“Yang salah itu adalah mencela suku suku tertentu, mencela agama tertentu, mencela ras tertentu, mencela golongan tertentu itu tidak boleh,” ujar dia.

READ  Gede Pasek: Ganti Ketua Umum Lewat Munaslub, Bukan Lewat Kumpul-Kumpul

“Misalkan saya maju sebagai calon gubernur di suatu daerah lalu ada satu suku di provinsi saya yang merasa kecewa dengan gubernur sebelumnya ya saya bilang saya akan belas suku anda saya akan mengajukan suku anda saya akan perhatikan kepentingan suku suku anda, apa tidak boleh,” lanjut dia.

Dengan demikian, dia mengimbau kepada calon kepala daerah tidak menggunakan Sara untuk mencela lawannya. Sebab hal itu diyakini akan menimbulkan masalah.