oleh

Pak SBY Mau Ngapain?

Sebarr.com, Jakarta – Meski fakta pada pilkada serentak 2018 membuktikan bahwa dinasty politik sudah usang, SBY tetap ngotot mengusung Putera sulungnya untuk tampil di Pilpres 2019.

Pertanyaannya adalah, Apakah SBY sadar bahwa Putera sulungnya belum pernah memegang jabatan dan menjadi pemimpin di partai politik?

sebelum ikut dalam kontestasi pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu, kapan AHY menjadi pemimpin di partai demokrat, berapa lama jadi kader demokrat? Apakah AHY ikut dalam kongres partai demokrat di Surabaya?

Kemudian, apakah SBY sadar dan memahami perasaan kader demokrat yang telah setia bertahun-tahun membesarkan partai dan menjadikannya sebagai presiden?

Padahal, SBY dikenal sebagai pemimpin yang sangat santun.

Pada pilgub DKI beberapa waktu lalu, AHY belum bisa disejajarkan dengan Anies Baswedan dan Basuki Thaja Purnama. Akibatnya, putera mantan presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu harus tersingkir pada putaran pertama.

Kekalahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilgub DKI lalu menunjukan AHY belum layak jadi pemimpin.

Karena itu, SBY harus sadar bahwa dinasty politik saat ini sudah usang. Pasalnya, masyarakat sudah cerdas dalam memilih kriteria calon pemimpinnya.

Sebagai contoh, Pasangan Gus Ipul-Puti Soekarno yang membawa dua nama besar mantan Presiden RI yaitu, Presiden RI ke 1 Ir. Soekarno dan Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri harus menelan pil pahit dalam pilgub Jatim 2018 lalu.

Mengapa demikian? Karena Khofifah dan Emil sudah memiliki track record yang jelas dan sudah pernah menjadi pemimpin. Khofifah pernah jadi Menteri dan Emil Dardak pernah menjadi Bupati Trenggalek.

Hal ini tentu berbeda jauh Jika kita bandingkan dengan AHY. Lawan Anies dan Ahok di pilgub Jakarta langsung tersingkir diputaran pertama, apalagi, jika AHY dipaksakan untuk melawan Jokowi di pilpres 2019?

Selain itu, dalam menghadapi pilpres 2019, pastinya, parpol yang akan koalisi juga menginginkan kader terbaik yang diusung dalam pilpres mendatang. Sehingga, masing-masing parpol akan mengajukan kader terbaiknya.

Apakah AHY merupakan kader terbaik partai demokrat? atau lantaran AHY putera pak SBY? Come On pak SBY, Dinasty Politik sudah usang, katanya ingin jadi bapak demokrasi yang baik.

Untuk lebih lengkapnya, saya kutip tulisan pengamat IPI, Jerry Massie yang menjabarkan kehancuran dinasty politik dalam pilkada serentak 2018.

Kekalahan di sejumlah daerah menggambarkan politik dinasti mulai runtuh. Contohnya kekalahan anak Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin yaitu, Dodi Reza yang dalam hitung cepat yang diadakan LSI Denny JA, meraup 32,10 persen suara sedangkan Herman Deru mendapat 35,54 persen suara.

Begitu pula anak Gubernur Kalimantan Barat yang diusung PDI-P, Demokrat dan PKPI Caroline Margret Natasa tumbang di tangan calon gubernur dari PPP Menurut hasil Quick Count LSI Denny JA, perolehan suara di Pilgub Kalbar 2018 ; Sutarmidji – Norsan 54.1%
Karolin – Gidot 38.6%
Milton – Boyman 7.2%. Sementara di Jawa Timur, Berdasarkan data KPUD yang masuk 96,91%) Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak: 10.157.683 suara (53,62%)
Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno: 8.786.844 suara (46,38%).

Jadi dari 7 dinasti politik di Pilgub 2018 hanya 1 yang unggul di NTB. Ini menunjukan dimana model politik ini sudah tak laku. Ke depan parpol harus berpikir ulang mengusung keluarga calon kepala daerah baik, anak, keponakan, kakak-beradik dan lainnya.

Begitu pun berakhirnya politik dinasti di NTT, diman rontoknya Marianus Sae-Emiliana Nomleni memang bisa dimaklumi.

Sejak pertengahan Februari lalu KPK menetapkan dia sebagai tersangka kasus suap.

Politik dinasti juga tumbang di Kabupaten Minahasa Sulut dimana anak Mantan Gubernur Sulut SHS Sarundajang dan Careig Runtu anak mantan Bupati Minahasa Vreeke Runtu takluk di tangan pasangan yang diusung PDI-P Roy Roring dan Robby Dondokambey.

Ivan-Careig kalah telak 30-70%. Saya nilai pilkada di Malut ini berpotensi digugat di MK.

Begitu pula pasangan yang maju di NTB adik kandung Gubernur yang diusung PKS Zulkieflimansyah berpasangan dengan Siti Rohmi Djalilah yang dinyatakan menang.

Kekalahan tragis pada quick count terjadi di Pilkada Jatim keponakan Gus Dur yakni Gus Ipul dan keponakan Megawati, Puti Guntur tak mampu mengimbangi Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak. Keduanya hanya menang di 8 Kabupaten Kota, sedangkan Khofifah – Emil unggul di 26 kab/kota.

Kekalahan tragis juga pasangan dinasti politik terjadi di Sulsel dimana Ichsan Jasin Limpo adik Gubernur Syahrul Yasin Limpo takluk di tangan pasangan Prof Andalan Nurdin Abdullah -Andi Sudirman Sulaiman meraih suara 43,50 persen, disusul Nurdin-Halid-Aziz Kahar 27,28 persen, Ichsan YL-A.Muzakkar 20,77 persen dan pasangan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Bali Lamo meraih 8,45 persen.

Nasib buruk juga terjadi di Maluku Utara duel kakak beradik Kasuba. Akhirnya Muhammad Kasuba kalah dari Abdul Gani Kasuba.

Paslon nomor urut 3, AGK-Ya yang diusung PDIP dan PKPI itu meraih 126.921 suara atau 30,42 persen, disusul paslon nomor urut 1, Ahmad Hidayat Mus dan Rivai Umar (AHM-Rivai) yang diusung Partai Golkar dan PPP dengan 120.015 suara atau 28,76 persen.

Paslon nomor urut 2, Burhan Abdurahman dan Ishak Djamaluddin (Bur-Jadi) yang diusung Partai Hanura, Demokrat, Nasdem, PBB dan PKB meraih 121.677 suara atau 29,16 persen.

Sekarang kita kembali ke laptop, Apa keuntungan memaksakan AHY maju di pilpres 2019? Hanya SBY yang tahu.

Setelah melihat penjelasan tulisan diatas, pantaskah SBY disebut bapak Demokrasi?

Namun, harus diakui, AHY merupakan tokoh muda yang layak jadi pemimpin di masa mendatang, tapi bukan sekarang. Paling tidak, AHY harus menjadi menteri dulu lah jangan langsung cawapres atau capres. “Pilih atau dukung calon presiden yang sudah banyak asam garam bukan memaksakan harus AHY. Emang bapak mau ngapain jual AHY ke parpol?

Oskar Dirge

Facebook Comments

Komentar

News Feed