oleh

Rekam Jejak Jokowi Tak Pernah Ada Cela

Sebarr.com, Jakarta – Keputusan Joko Widodo untuk kembali menjadi calon presiden untuk Pilpres 2019 dengan menggandeng Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres semakin mantap.

Sejak jauh hari, parpol yang jadi pendukung pemerintahannya selalu mendesak pria yang karib disapa Jokowi itu untuk bertarung kembali. Sampai pada akhirnya, pada Kamis (9/8/2018) sore, Jokowi-pun menerima permohonan parpol koalisi dan juga para relawan pendukungnya untuk maju di Pilpres 2019.

Pria yang punya segudang pengalaman di eksekutif dari tingkatan wali kota, gubernur, hingga Presiden ini-pun juga memiliki prestasi yang cukup banyak. Namun, tidak mudah bagi Jokowi untuk bisa meraih posisi orang nomor satu di republik ini.

Sebelum masuk ke dalam dunia politik, Jokowi merupakan pengusaha mebel yang terbilang sukses. Usahanya itu pun selaras dengan ilmu yang diperolehnya saat mengenyam pendidikan tingginya di Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada (UGM).

Berbekal ilmu yang didapat di kampus itu kemudian dipakai Jokowi untuk menjalankan usaha olah kayu sebagai furnitur. Keluarga Jokowi sendiri juga punya sejarah dalam bisnis ini. Kegigihan yang dipunya pun membawa pria kelahiran Surakarta 21 Juni 1961 ini membuat usahanya semakin moncer.

Jokowi-pun menikahi Iriana di Solo pada tanggal 24 Desember 1986. Keduanya dikarunia 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.

READ  Soal Rupiah, Jokowi: Ini Faktor Eksternal Yang Bertubi-Tubi
Presiden Jokowi saat masih menjadi pengusaha mebel

Pada 2005, Jokowi dicalonkan sebagai Wali Kota Solo pada 2005 oleh PKB dan PDIP. Kepemimpinan Jokowi sebagai wali kota mulai tersorot publik. Satu hal yang paling diingat publik ialah saat menata Solo. Di masa-masa ini, Jokowi dikenal sebagai pemimpin manusiawi yang sangat sederhana.

Jokowi mengedepankan dialog dengan masyarakat di saat ingin melakukan penataan kota. Selain itu Jokowi juga melakukan pembaruan dan menjadikan Solo sebagai penyelenggara berbagai acara nasional dan internasional. Keberhasilan Jokowi pun membuatnya kembali terpilih sebagai wali kota di pemilihan kepala daerah tahun 2010.

Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi Yayasan Wali Kota Sedunia (The City Mayors Foundation) pada 2013. Jokowi dianggap telah membentuk citra kota Solo sebagai kota seni budaya hingga bisa menarik wisatawan datang. Jokowi juga gencar kampanye antikorupsi yang membuatnya mendapatkan reputasi sebagai politisi paling jujur di Indonesia. Publik juga semakin simpatik ketika Jokowi memutuskan menolak mengambil gaji selama menjabat sebagai wali kota Solo.

Pencapaian Jokowi di Solo membuat elite politik nasional meliriknya untuk berlaga di pilgub DKI 2012. Jokowi yang dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun terpilih sebagai gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Memulai karirnya sebagai gubernur, Jokowi dikenal sebagai pekerja keras. Tidak jarang ia lemburan hingga tengah malam menunggui proyek pembangunan Jakarta agar cepat tuntas. Salah satunya Jokowi menjadi sorotan saat masuk gorong-gorong di Sudirman dan lembur menunggui pembangunan tanggul banjir kanal barat yang jebol hingga menyebabkan bundaran Hotel Indonesia (HI) tergenang pada awal Januari 2013

READ  Kemenag Usut Air Zamzam Berlabel Ganti Presiden

Jokowi juga menampilkan image sebagai pemimpin yang dekat dengan anak muda. Hingga nantinya dia jadi Presiden ke-7 RI, Jokowi kerap menampilkan diri dengan trend anak muda. Beberapa di antaranya ialah gaya berpakaian, hobi dan kegemaran, serta gaya komunikasi menggunakan teknologi dipakainya.

Dua tahun menjabat sebagai gubernur, Jokowi kemudian dipasangkan dengan senior Golkar Jusuf Kalla sebagai pasangan capres-cawapres di tahun 2014. Jokowi-JK kemudian dinyatakan menang atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Selama menjadi Presiden, Jokowi dikenal sangat serius melakukan pembangunan infrastruktur. Jalan tol, bandara, hingga jembatan dibangun dari ujung Papua hingga ujung Sumatera. Meski banyak kritik, Jokowi tetap keras kepala menuntaskan pembangunan infrastruktur.

Jokowi juga mendapat julukan presiden koppig atau keras kepala. Sebutan ini diberikan oleh mantan Ketua DPR Setya Novanto karena Jokowi susah diajak ‘kongkalikong’. Sebutan itu muncul dalam rekaman perbincangan Setyo Novanto dengan pengusaha Riza Chalid dan Presdir Freeport Indonesia Maruf Sjamsoeddin yang dikenal sebagai kasus ‘Papa Minta Saham’.

READ  Jokowi Panggil Menteri ke Istana, Ini Perintahnya

Setelah empat tahun menjabat, Jokowi menatap Pilpres 2019. Tidak jauh beda dengan Pilpres 2014 lalu, kali ini Jokowi-Ma’ruf didukung sembilan parpol yakni PDIP, Golkar, NasDem, PPP, PKB, Hanura, Perindo, PSI, dan PKPI.

Kali ini, Jokowi kembali berhadapan dengan Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno. Jokowi mengucapkan selamat kepada pasangan yang didukung Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat ini. Jokowi menilai keduanya sebagai putra terbaik Indonesia.

“Pak Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno adalah putra-putra terbaik bangsa ini. Beliau bersama saya dan KH Ma’ruf Amin ingin berjuang demi bangsa yang kita cintai ini,” kata Jokowi usai mendaftarkan diri di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/8/2018).

Jokowi mengajak semua pihak untuk menjadikan Pemilu 2019 sebagai ajang mendewasakan politik Indonesia. Dia ingin ajang lima tahunan ini jadi proses menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Dia berharap Pemilu 2019 dijalankan dengan penuh kegembiraan.

“Demokrasi bukan perang, demokrasi bukan permusuhan tapi ajang mengadu gagasan, ide, ajang mengadu rekam jejak, ajang mengadu prestasi. Jangan sampai karena perbedaan pilihan politik kita menjadi bermusuhan. Bermusuhan antar tetangga, tidak saling menyapa antarkampung sehingga kita kehilangan tali persaudaraan karena aset terbesar bangsa kota persatuan dan kesatuan,” ungkapnya. (Detik)

Komentar

News Feed