oleh

Kejaksaan Agung Tahan Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan

Sebarr.com, Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menahan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan.

Karen ditahan di rumah tahanan (rutan) Pondok Bambu oleh Jaksa penyidik untuk 20 hari ke depan untuk kepentingan penyidikan.

“Ditahan di Rutan Pondok Bambu,” ujar pengacara Karen, Susilo Ariwibowo, Senin (24/9/2018) sebagaimana dilansir detik.

Susilo mengaku tengah menemani Karen dalam perjalanan menuju ke Rutan Pondok Bambu bersama jaksa penyidik. Dia ditahan terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan investasi pada Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.

Kasus itu bermula ketika Pertamina melakukan akuisisi berupa pembelian sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di Blok Basker Manta Gummy Australia. Pengusulan investasi pada 2009 ini diduga tidak sesuai dengan pedoman investasi.

READ  Kejaksaan Agung Perpanjang Masa Pencekalan Karen Agustiawan

Pengambilan keputusan investasi ini tanpa ada studi kelayakan (feasibility study) dan persetujuan dewan komisaris.

Sebelumnya, tim penyidik Kejaksaan Agung juga telah menetapkan Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina Genades Panjaitan dan Direktur Keuangan Pertamina, Frederik Siahaan.

Karen dan dua tersangka lainnya juga telah dikenakan status pencegahan bepergian ke luar negeri pada 22 Maret 2018.

Sementara itu, mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina, Bayu Kristanto, sudah ditetapkan sebagai tersangka lebih dulu dan langsung ditahan selama 20 hari oleh tim penyidik.

Kasus itu bermula saat Pertamina melalui anak peru­sahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akui­sisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd untuk menggarap Blok BMG.

READ  Hakim Tetapkan Vonis 1,5 Tahun Penjara Terhadap Jonru

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase – BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transak­sinya mencapai USD 31 juta.

Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar USD 26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga 812 barel per hari.

Namun ternyata, Blok BMG hanya bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebe­sar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil me­mutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.

READ  KPK Korek Istri Setnov Tujuh Jam

Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Hasil penyidikan Kejagung menemukan dugaan penyim­pangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasibility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris.

Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara dari Pertamina sebesar USD 31 juta dan USD 26 juta atau setara Rp 568 miliar.

Komentar

News Feed