oleh

Prabowo Lelah, Pasukan Terbelah

Oleh: Mixil Mina Munir, Wasekjend PP GP Ansor

Politik adalah perang tanpa darah, perang adalah politik dengan darah. Meskipun pilpres bukanlah sebuah peperangan dalam arti sesungguhnya namun strategi yang dijalankan mestinya strategi perang. Intruksi Komandan tempur dalam peperangan harus ditaati oleh tiap pasukan.

Namun apa jadinya jika Komandan tidak memberi instruksi apapun?

Tahapan kampanye Pilpres 2019 telah dimulai. Jokowi tetap dengan gaya blusukannya. Tapi selama 2 minggu ini kita tidak melihat sosok Prabowo, kemana Capres yang telah 2 kali kalah ini?

Prabowo bukan hanya calon presiden namun juga komandan tempur, Jika komandan tempurnya hilang maka tidak heran pasukannya lari kocar-kacir.

Kan aneh, saat kampanye dimulai Seluruh pengurus dan kader PKS di Propinsi Bali mengundurkan diri. Apakah DPP PKS tidak mensuplai gizi kardus Sandi? atau justru dimakan DPP sendiri?

Tidak lama berselang, pengurus PAN di Sumatera Barat deklarasi mendukung Jokowi, Irwan Nasir, ketua DPW PAN Riau juga dukung Jokowi. Apakah ini bentuk dari kekecewaan terhadap Prabowo yang tidak turun ke daerahnya?

Partai Demokrat juga setengah hati mendukungnya. Cermati seruan AHY: Kader demokrat bebas tentukan sikap di pilpres 2019. Lihat juga yang dilakukan Andi Arief, Wasekjend Partai Demokrat. Secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya karena tidak melihat Prabowo turun kampanye.

Kader partai Demokrat lain, Tuanku Guru Bajang, Lukas Enembe dan Dedi Mizwar secara terbuka mendukung Joko Widodo. Tapi pilihan mereka bertiga bukan karena Prabowo yang jarang turun tapi karena Jokowi kelihatan kerjanya nyata.

Mungkin Prabowo sudah lelah, umurnya sudah 66 tahun, logistik perang juga jauh berkurang dibanding 2014, pasukan sudah lari kocar-kacir dan yang paling bikin sesak nafas doi: tidak ada yang dibanggakan saat turun karena pendukungnya lebih sibuk mencari kesalahan Jokowi daripada kampanye prestasi dirinya.

Ngopi sore di Tanamera, Gandaria

Komentar

News Feed