oleh

LSI: Prabowo Marahi Media untuk Giring Opini Pemilihnya

Sebarr.com, Jakarta – Pernyataan keras calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto kepada media dinilai sengaja dilakukan untuk menggiring opini masyarakat agar tidak mempercayai berita-berita yang cenderung tidak berpihak kepadanya.

Menurut Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Rully Akbar, capres dengan nomor urut 02 itu mendorong para pemilihnya untuk mempercayai media sosial (medsos) ketimbang media mainstream.

“Ini kan pilihan politik juga, bahwa mungkin Prabowo lebih merasa diuntungkan ketika mereka para pemilihnya mengakses sosial media atau berita-berita yang di-create tim kampanye dibandingkan dengan media mainstream yang mungkin mayoritas tidak lebih banyak tendensi negatifnya kepada Prabowo-Sandi,” ujar Rully di Kantor LSI, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

READ  Prabowo Dianjurkan Mundur Dari Pilpres 2019

Menurut Rully, pernyataan Prabowo yang memarahi profesi wartawan tidak akan mempengaruhi elektabilitasnya sebagai penantang petahana. Sebab, narasi ini akan menguap begitu saja karena memang mantan Danjen Kopassus itu dikenal kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

“Kalau ini menjadi isu besar bisa jadi akan ada faktor, ada tendensi elektoralnya, tapi kalau ketika isu ini hanya menguap gitu saja secara otomatis tidak akan ada efek elektoralnya,” tutur Rully.

Ia pun mencontohkan kasus hoax Ratna Sarumpaet yang sama sekali tidak berdampak pada elektoral Prabowo-Sandi lantaran Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Indonesia Adil Makmur langsung mencopot Ratna sebagai jubir tim pemenangan.

“Ketika tim Prabowo-Sandi langsung mengambil keputusan untuk mencopot Ratna dan mengecilkan skup kesalahannya hanya di Ratna Sarumpaet dengan ada pengakuan Ratna dialah yang mengaku bohong dan sebagainya. Ini tidak meluas ke jajaran tim kampanye maupun Prabowo-Sandi,” jelasnya.

READ  Prabowo Ngamuk Dicuekin Emak-emak

Rully menambahkan, bahwa Pilpres 2019 hanya dapat dimenangkan oleh kubu yang mampu memainkan isu dengan bijak karena dalam dua bulan kampanye tidak ada perubahan signifikan dalam elektoral masing-masing pasangan capres dan cawapres.

“Kecil besarnya tergantung dari tim yang berseberangan untuk bisa memainkan isu ini,” pungkasnya.

News Feed