oleh

Tosca Santoso Sumbangkan Pemikirannya untuk Percepatan Perhutanan Sosial Melalui Buku

Sebarr.com, Jakarta – Tosca Santoso sumbangkan pemikirannya untuk percepatan perhutanan sosial melalui buku yang ditulisnya yang bertajuk “Lima Hutan, Satu Cerita”.

“Saya ingin menjadikan cerita ini inspirasi bagi daerah lain. Buku ini untuk memberi sumbangan bagaimana Perhutanan Sosial bisa dipercepat,” kata Tosca Santoso pada Diskusi dan peluncuran buku “Lima Hutan, Satu Cerita” di Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Dalam buku setebal 164 halaman tersebut, anggota Dewan Pengawas LKBN Antara itu mengangkat kisah sukses Perhutanan Sosial dari lima hutan di Indonesia yaitu di Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, Kerinci Provinsi Jambi, Gunung Kidul Yogyakarta, Madiun Jawa Timur, dan Sarongge, Cianjur, Jawa Barat.

Selama tiga bulan sejak Oktober 2018, Tosca memulai perjalanannya mengisahkan pengalaman melihat langsung keberhasilan program tersebut.

Menurut dia, program Perhutanan Sosial cukup berhasil di lima hutan tersebut dan bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain karena dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan melestarikan lingkungan.

Pemerintah mengalokasikan kawasan hutan seluas 12,7 juta hektare untuk perhutanan sosial. Hingga akhir 2018, baru 2,5 juta hektare yang terealisasi.

Tosca dalam buku yang ditulisnya juga memberikan saran agar ada percepatan dalam realisasi perhutanan sosial antara lain dengan mendelegasikan kerja sama di level kabupaten.

Pengelola hutan membuat nota kesepahaman dengan bupati agar Perhutanan Sosial menjadi program kabupaten agar bisa bergerak lebih cepat, ujarnya.

Usulan lainnya, di Jawa, lahan Perhutani menjadi bagian dari proyek Perhutanan Sosial sehingga Perhutani harus lebih aktif dalam program tersebut.

Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, disebutkan buku “Lima Hutan, Satu Cerita” dikemas apik, enak dibaca, mencerahkan dan memberikan refleksi kehidupan sosial yang nyata dalam pergulatan implementasi kebijakan nasional Perhutanan Sosial dan Reforma Agraria.

Dari buku tersebut, Siti Nurbaya juga menangkap perlunya di tingkat implementasi dilakukan pengembangan terkait investasi, teknologi dan kelembagaan kelompok, fasilitasi infrastruktur, pendampingan, penyuluhan juga pengawasan.

“Lima Hutan, Satu Cerita” diluncurkan bersamaan dengan diskusi yang diselenggarakan di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur. Para pembicara dalam diskusi tersebut yaitu Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria Dewi Kartika, Ketua Tim Perhutanan Sosial Perhutani Amas Wijaya dan sekretaris Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK Apik Karyana.

Facebook Comments