oleh

Alumni Trisakti: Jokowi Anak Kandung Reformasi

Sebarr.com, Jakarta – Direktur Wahid Foundation, yang juga Alumni Trisakti, Yenny Wahid menceritakan dirinya menjadi saksi sejara tragedi Trisakti tahun 1998.

Kala itu ia baru luluas dan menjadi reporter untuk koran terkemuka Australia. Yenny juga turut serta menajdi korban intimidasi oleh rezim otoriter.

“Tahun 98, bulan mei 98 saya berdiri di jembatan layang, jalan tol layang berdiri disana untuk meliput mahasiswa yang berdemo terhadap presiden rezim orde baru, saya waktu waktu itu baru setahun lulus dari Trisakti, saya bekerja sebagai reporter koran australi terkemuka,” kata Yenny saat berpidato dalam acara deklarasi Alumni Trisakti untuk Jokowi di┬áBasket Hall Senayan, Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat, Sabtu (9/2/2019).
.

“Saya kesana sore-sore bersama dengan beberapa wartawan yang membawa kamera, tiba-tiba suasana senyap karena ada beberapa pria berseragam menertibkan daerah itu,” Yenny bersaksi.

Dia menjelaskan, dirinya sempat bingung dengan situasi saat itu lantaran Yenny dan kawan-kawan jurnalis seketikan dihadang bahkan Yenny sempat diacungi senapan laras panjang.

“Saya agak bingung, kenapa ini? tiba-tiba saya dihalau kami semua wartawan media di halau bahkan saya sempat diacungi senapan laras panjang tepat ke dahi saya,” ungkap dia.

“Minggir! area ini harus bersih! Minggir!”.

“Saya wartawan pak,” cerita Yenny.

“Gak peduli! Minggir!” Lanjut Yenny menirukan orang yang mengintimidasinya.

Yenny pun mengaku lari seperti tikus dikejar kucing. “Saya tidak mengetahui bahwa sesudah itu terjadinya penembakan kepada anak-anak Trisakti.”

“Tapi saya menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah penindasan telah terjadi, bagaimana sebuah kekejaman telah terjadi,” tegas Yenny.

Karena itu, lanjut Yenny “Kita semua berdiri disini untuk menyatakan tidak lagi. Reformasi dicapai oleh darah adik-adik, kawan-kawan kita dan reformasi menghasilkan salah satu anak kandungnya adalah Presiden kita saat ini Joko Widodo. Dia adalah produk dari demokrasi yang telah begitu mahalnya dicapai.”

Demokrasi, menurut dia bukan given. “Demokrasi harus kita pertahankan, demokrasi telah dicapai dengan harga yang sangat mahal,” ungkapnya.

News Feed