oleh

Inas Zubir: Hasil Survei SPIN Cuma Penuhi Birahi Sudirman Said

Sebarr.com, Jakarta – Politisi Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menyebut hasil lembaga survei yang tak kredibel hanya penuhi ‘birahi’ Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan capres nomor dua Prabowo-Sandi.

“Ya cuma penuhi birahi saja,” kata Inaz menanggapi hasil Survey & Polling Indonesia (SPIN) saat dihubungi, Sabtu (9/3/2019) malam.

Belum lama ini, Lembaga Survey & Polling Indonesia (SPIN) menyatakan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin kian dipepet Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hingga hanya selisih 8 persen berdasarkan hasil survei.

Siapa yang membiayai survei SPIN?

Direktur SPIN Igor Dirgantara menegaskan lembaga surveinya independen. Ia menyebut survei elektabilitas capres-cawapres 2019 ini dibiayai kas SPIN.

“Untuk survei ini sendiri independen, kami ada kas sendiri,” kata Igor belum lama ini di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta.

Namun Igor menambahkan, tak menutup kemungkinan ada sumber dana lain. Igor mengatakan kerap ada pihak tertentu yang menyumbangkan duit.

“Survei itu sebenarnya independen. Tapi saya nggak menutup kemungkinan di saat-saat terakhir ada yang sumbang, itu biasa. Kadang malah nggak sekarang, tapi setelah ini. Misal kekurangan biaya ini siapa yang nutupin. Biasanya ada simpatisan gitu yang senang. Saya jujur saja,” tuturnya.

Siapa pihak yang memberikan uang tersebut? Igor tak menjawab pasti.

“Ya, itu kan tim ya. Saya menduga seperti itu. Ini saya clear kas pribadi. Tapi kan kadang surveyor saya nih, korlap (koordinator lapangan) mungkin bisa saja mainin. Ya, itu kadang pasar gelap. Saya kurang jujur apa nih,” ujar Igor.

Igor juga mengatakan SPIN tak terdaftar dalam perhimpunan lembaga survei manapun. SPIN tak ikut Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) ataupun Asosiasi Riset Opini Publik (Aropi).

“Saya tergabung di sana, tapi keluarlah. Di Aropi. Semuanyalah. Saya nggak mau,” kata Igor di Bakoel Koffie Cikini, Cikini, Jakarta.

Igor menuturkan SPIN sempat bergabung bersama Aropi. Namun, dia memutuskan untuk keluar. Apa alasannya?

“Namanya lembaga survei itu independen. Nggak tergabung sana-sini,” ujarnya.

Sebelumnya, Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, menuding lembaga survei yang menjadi timses salah satu kandidat capres dapat merusak demokrasi.

Hal ini disampaikan Sudirman Said lantaran Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandi dengan jarak 27,7%.

Menurutnya, beberapa pilkada telah menjadi kuburan bagi lembaga survei yang tidak kredibel.

“Jadi Pilpres kali ini adalah ujian terakhir. Apakah lembaga survei itu betul-betul bisa dipercaya oleh masyarakat,” ungkap Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Facebook Comments

News Feed