oleh

Pasar Bergejolak Jika Jokowi Kalah

Sebarr.com, Jakarta – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menilai, jika masyarakat tidak memberi kepercayaan kepada Jokowi di pilpres 2019 akan terjadi gejolak pasar yang luar biasa.

“Jika ada kejutan di pilpres 2019, saya pikir pasar akan jatuh. Mata uang mungkin akan jatuh, ” kata Tom Lembong, seperti dilansir Bloomberg, Senin (19/3/2019).

Berdasarkan hasil beberapa Lembaga survei yang diterima, sambung Lembong, Presiden Joko Widodo merupakan favorit dan bakal memenangkan pilpres 2019.

“Survei hari ini Jokowi mengungguli Prabowo dengan selisih 26 poin,” bebernya.

Namun demikian, masih kata Lembong, jika keadaan terbalik dan oposisi menang, pasar akan terpuruk dan mereka harus bergerak cepat untuk membangun kembali kepercayaan pasar.

“Mereka harus menolak beberapa posisi kebijakan mereka yang lebih ekstrem, seperti rencana untuk menghentikan impor makanan. Mereka harus berpidato dengan alasan bahwa kehati-hatian fiskal itu penting, bahwa peringkat itu penting bagi mereka, bahwa mereka ingin mempertahankan keuntungan yang kami buat pada peringkat kredit berdaulat,” tegasnya.

Mata Uang Rebound

Rupiah Indonesia telah pulih dari kekalahan pasar dan berkembang dari tahun lalu, naik 1,2 persen terhadap dolar tahun ini. Benchmark Jakarta Composite Index naik 4,6 persen pada periode yang sama.

Investor memiliki alasan kuat untuk mewaspadai survei pemilih, mengingat kemenangan mengejutkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 2016, hasil referendum Brexit yang tak terduga dan pemilihan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tahun lalu.

“Pasar mengharapkan kontinuitas dan stabilitas,” kata Lembong.

Lembong mengatakan investor berharap Jokowi akan melanjutkan masa jabatannya sehingga modal mengalir kembali ke Indonesia dalam tiga bulan pertama.
“Ekonomi berada pada jalur untuk mencatat pertumbuhan dua digit dalam investasi asing langsung pada 2019, yang akan menjadi perubahan dari tahun lalu, ketika turun 8,8 persen menjadi 392,7 triliun rupiah ($ 27,6 miliar),” jelasnya.

Selanjutnya, kata Lembong, pemerintah Jokowi tetap berkomitmen untuk membuka ekonomi, meskipun ada penundaan dalam merombak peraturan kepemilikan asing.

“Jika kita terpilih kembali, kita masih belum keluar dari hutan,” katanya. “Kita harus bergerak cepat untuk mendapatkan kembali momentum yang hilang pada beberapa reformasi yang tertunda seperti revisi lebih lanjut dari daftar investasi negatif,” tutupnya.

Facebook Comments