oleh

Dubes Djauhari Oratmangun Dampingi Mendag Enggar Bertemu Dengan Minister of GACC Ni Yuefeng di Beijing

Sebarr.com, Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita Mengawali rangkaian kegiatan kunjungan kerjanya ke Tiongkok pada 18-22 Juli 2019, bertemu dengan Minister of General Administration of Custom China (GACC), Ni Yuefeng di Kantor GACC Beijing. Pertemuan tersebut guna membahas hambatan perdagangan yang dihadapi dalam ekspor Indonesia ke Tiongkok pada Jumat (19/7).

Pertemuan bilateral tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraan dan kesepakatan yang sudah dilakukan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Xi Jinping di Osaka, Jepang beberapa waktu lalu.

“Pemerintah mengharapkan agar Tiongkok memberi kemudahan atas ekspor sarang burung walet, buah-buahan tropis seperti nanas, buah naga, alpukat, durian, serta produk perikanan. Menteri Ni Yuefeng merespon dengan baik dan akan menindaklanjuti permasalahan yang disampaikan Indonesia. Untuk mempercepat proses tersebut, pihak Indonesia mengusulkan pembentukan joint working group” jelas Menteri Perdagangan dalam keterangan pers yang diterima Redaksi, Senin (29/7/2019) malam.

Selanjutnya, Mendag akan mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Tiongkok dan pertemuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) Tingkat Menteri yang dijadwalkan pada 1 – 3 Agustus mendatang.

Duta Besar Djauhari Oratmangun yang ikut mendampingi Menteri Perdagangan, mengajak para importir untuk membantu meningkatkan ekspor produk-produk pertanian dan kelautan Indonesia ke Tiongkok melalui platform mereka dan mengundang mereka berinvestasi di Indonesia. Hal ini disampaikan Dubes Djauhari dalam kesempatan berbicara di Kongres Tahunan ke-5 Asosiasi Industri Sarang Burung Walet dan bertemu dengan Ketua CAWA (China National Agriculture Wholesale Market Association) serta angota-anggotanya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan juga mengajak para importir sarang burung walet Tiongkok untuk berinvestasi di Indonesia yang merupakan penghasil utama sarang burung walet untuk diolah dan diekspor kembali ke Tiongkok, negara-negara ASEAN, dan Australia. Ekspor sarang burung walet Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebesar 70 ton dengan nilai USD 140,5 juta dari 21 perusahaan. Untuk meningkatkan ekspor sarang burung walet, saat ini tujuh perusahaan lainnya dalam proses verifikasi untuk mendapatkan sertifikasi dari CNCA. Kehadiran Mendag di Tiongkok guna mempercepat proses sertifikasi dimaksud.

Menteri Perdagangan juga berkesempatan mengunjungi Xinfadi International Exhibition Center of Agricultural Products di Beijing pada (19/7) untuk studi agar pengembangan pasar rakyat di Indonesia dapat dilakukan secara tepat sasaran sesuai kepentingan rakyat, termasuk para petani dan peternak di seluruh Indonesia. Menteri Perdagangan melihat konsep pasar induk yang terintegrasi dengan baik sehingga dapat memperpendek mata rantai distribusi produk-produk pertanian dan peternakan yang menguntungkan petani dan peternak.

Selain kunjungan di Beijing, Menteri Perdagangan juga berkunjung ke Shanghai guna bertemu dengan pengusaha Indonesia yang tergabung dalam anggota Indonesia Chamber of Commerce (INACHAM) di Shanghai (20/7). Pertemuan dimaksudkan untuk menerima masukan terkait hambatan perdagangan dengan Tiongkok. Salah satu isu yang dibahas terkait perlakuan impor yang diterapkan Tiongkok dan perbedaan tariff beberapa produk dengan negara lain. “Kami berupaya mendapatkan tarif yang sama dengan yang diterapkan Tiongkok kepada negara lain dan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi untuk memperoleh hal itu,” ungkap Menteri Perdagangan.

Menteri Perdagangan mengapresiasi langkah Duta Besar Djauhari Oratmangun yang telah memprioritaskan diplomasi ekonomi dan menampung berbagai keluhan yang masuk serta melakukan lobi yang kemudian diteruskan kepada Menteri Perdagangan guna dilakukan pembicaraan dengan pihak Tiongkok.

Di Shanghai, Menteri Perdagangan meresmikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai yang merupakan pusat promosi Indonesia yang pertama di Tiongkok (22/7). “Peran dan keberadaan ITPC di negeri tirai bambu sangat penting karena Tiongkok merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Bukan hanya sebagai lembaga pemerintah, namun juga bertindak sebagai agen promosi bisnis dan produk Indonesia di kawasan Tiongkok. Maka itu, ITPC Shanghai siap melayani para pelaku usaha di Tiongkok selama 24 jam,” ujar Menteri Perdagangan.

Selain sebagai jendela promosi produk tanah air, peresmian ITPC Shanghai merupakan salah satu langkah meningkatkan neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok. Diharapkan ITPC Shanghai mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dengan mengawasi kebutuhan apa saja yang diperlukan Tiongkok dan apa yang bisa disediakan Indonesia. ”
Menurut Mendag, peresmian ITPC Shanghai merupakan langkah awal membuka perwakilan promosi produk Indonesia di Tiongkok. “Ke depannya, kami berkeinginan kembali membuka beberapa perwakilan di provinsi-provinsi lain. Minimal di Guangzhou,” pungkasnya.

Total perdagangan Indonesia-Tiongkok periode 2018 tercatat sebesar USD 72,67 miliar atau naik 23,48 persen dari total perdagangan 2017 yang sebesar USD 58,84 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia-Tiongkok pada periode Januari—April 2019 telah mencapai USD 22,4 miliar.

Facebook Comments