IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Harusnya Bisa Capai 6,5%

International Monetary Fund (IMF). Foto: net

Sebarr.com, Jakarta – Ekonomi Indonesia harusnya bisa tumbuh hingga 6,5 persen (tahun ke tahun) dalam jangka menengah (tahun 2022) dengan reformasi struktural yang akan meningkatkan produktivitas dan menarik investasi untuk pembiayaan pembangunan.

Demikian disampaikan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam Laporan Konsultasi Artikel IV untuk Indonesia 2017 yang telah disimpulkan dalam pertemuan Dewan Direktur IMF.

“Reformasi di fiskal dan reformasi struktural lainnya menunjukan potensi pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,5 persen di jangka menengah,” kata IMF, dilansir dari Antara, Rabu (7/2/2018).

IMF tetap mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menyambut baik fokus bauran kebijakan jangka pendek antara otoritas untuk mendorong pertumbuhan.

READ  Jokowi Sodorkan 3 Nama Calon Petinggi BI ke DPR

Dalam laporannya, IMF juga menyoroti belanja pemerintah yang dialokasikan ke sektor-sektor prioritas, serta pertumbuhan investasi yang banyak meningkatkan sumber pendanaan untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia.

IMF menekankan segala proses reformasi fiskal dan reformasi struktural lainnya harus menjadi prioritas agar pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan negara untuk mendukung pembiayaan pembangunan.

Dewan Direktur IMF menyimpulkan prospek perekonomian Indonesia positif, tetapi menyarankan pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko.

Bank Indonesia menyambut baik hasil penilaian IMF. Alasannya, penilaian IMF sesuai dengan kajian Bank Sentral, yang meyakini ketahanan perekonomian Indonesia semakin kuat. Indikatornya, selama 2017 inflasi berada di level rendah 3,61 persen (tahun ke tahun).

“Inflasi yang terjaga pada level yang rendah dan stabil tersebut memberikan suasana yang kondusif bagi upaya penguatan momentum pemulihan ekonomi domestik,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

READ  Agus Martowardojo: Peluang Suku Bunga BI Turun Kecil

Pertumbuhan ekonomi 2017 yang mencapai 5,07 persen ditopang oleh perbaikan investasi infrastruktur pemerintah dan peran investasi swasta. Selain itu, membaiknya ketahanan yang ditandai dengan neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar rupiah stabil.